Jumat, 30 Oktober 2015

REVIEW JURNAL (TUGAS 1 SOFTSKILL)



                                                                 REVIEW JURNAL
PENGENDALIAN KUALITAS


Description: D:\Tugas Dody\LOGO GUNDAR.jpg











Disusun Oleh:

                           Nama                         : Winaldi Muharrom   
                           NPM                         : 39413314
                           Kelas                         : 3 ID 09
                           Mata Kuliah               : Metode Penelitian (Softskill)
                           Dosen                        : Yahya Zulkarnain



                                               
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2015

 
 






RESUME JURNAL PENGENDALIAN KUALITAS
JURNAL 1

Analisis Six Sigma Untuk Mengurangi Jumlah Cacat Di Stasiun Kerja Sablon
(Studi Kasus: CV. Miracle)

Identifikasi cacat pada stasiun kerja sablon di CV. Miracle dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis Cacat Stasiun Kerja Sablon
Sedangkan cacat untuk stasiun kerja jahit terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis Cacat Stasiun Kerja Jahit
Jumlah cacat akan digunakan sebagai input untuk penentuan Critical to Quality Potensial. Jumlah cacat untuk setiap stasiun kerja dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Cacat Berdasarkan Stasiun Kerja
Penentuan Stasiun Kerja Kritis
Penentuan stasiun kerja kritis berdasarkan adanya biaya yang tidak perlu. Biaya ini muncul akibat adanya sejumlah produk yang cacat sehingga, CV. Miracle mengalami kerugian akibat cacat tersebut. Berdasarkan perhitungan diperoleh biaya cacat untuk sablon sebesar Rp. 653,- dan untuk jahit sebesar Rp. 1.362,-. Biaya yang harus dikeluarkan akibat cacat pada stasiun kerja sablon dan jahit dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Jumlah Biaya yang Harus Dikeluarkan Akibat Produk Cacat
Berdasarkan proses perhitungan diperoleh besar biaya yang harus dikeluarkan akibat jumlah cacat distasiun kerja sablon sebesar Rp. 406.819,-.

Menentukan Critical To Quality
Berdasarkan jumlah cacat, dapat disimpulkan bahwa stasiun kerja sablon merupakan stasiun kerja kritis dan harus segera diperbaiki. Berdasarkan jumlah cacat, dapat disimpulkan pula bahwa jumlah cacat terbanyak terdapat pada cacat leber dan cacat terkelupas. Crirtical to Quality, nilai sigma dan nilai DPMO kedua cacat ini dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Cacat Kelupas dan Cacat Leber Di Stasiun Kerja Sablon

Berikut contoh perhitungan untuk penentuan nilai DPMO dan Sigma Level.
DPO = DPMO = DPO X 1000000
 = 0,65 X 1000000 = 650000
Penentuan nilai Sigma ditentukan dengan rumus:
= normsinv((1000000-DPMO)/1000000)+1,5
= normsinv((1000000-650000)/1000000)+1,5 = 1,11
Berdasarkan tabel DPMO dan Sigma diperoleh bahwa nilai Sigma rata-rata sebesar 1,3 dan nilai DPMO rata-rata sebesar 595.730.

Sumber Penyebab Cacat
Berdasarkan Cause Effect Diagram diperoleh beberapa penyebab cacat. Penjelasan penyebab cacat dapat dilihat pada Tabel 6. Untuk mengetahui prioritas perbaikan dapat digunakan Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Proses perbaikan prioritas akan dilihat dari nilai menggunakan Risk Priority Number (RPN) terbesar. Prioritas perbaikan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 6. Faktor Penyebab Cacat Berdasarkan Cause Effect Diagram
Hasil analisa dengan Causse Effect Diagram dapat bahwa metoda yang digunakan masih belum benar sehingga, metoda harus segera dilakukan perbaikan. Perbaikan meliputi metode penyablonan dan standarisasi waktu penjemuran.


Tabel 7. FMEA
Hasil Failure Mode Effect Analysis dengan menggunakan score yang berasal dari Severity, Occurance dan Detection diperoleh bahwa perbaikan difokuskan pada proses sablon dan penjemuran. Perbaikan proses sablon meliputi standarisasi penggunaan tinner dengan ukuran yang pasti. Sedangkan, penjemuran dilakukan dengan standarisasi waktu penjemuran.

Perbaikan Proses Penyablonan
Perbaikan penyablonan dilakukan dengan merancang Standard Operational Procedure.
Tabel 8. Hasil Perancangan Eksperiemen
 
Perancangan standar operasional prosedur bertujuan untuk menstandarisasi proses penyablonan terutama, pada penggunaan tinner. Penerapan standar operasional prosedur belum bisaditerapkan dengan baik karena beberapa penyebab yaitu:
1. Operator tidak biasa menggunakan alat pelindung diri berupa masker, menurut operator penggunaan masker membuat operator tidak bisa bekerja secara maksimal.
2. Operator tidak biasa bekerja tanpa merokok, merokok untuk menghilangkan bau tinner dan cat.
Beberapa penyebab tersebut menyebabkan standard operational procedure stasiun kerja sablon tidak berjalan secara maksimal sehingga, produk cacat masih terjadi walaupun jumlahnya mengalami penurunan.

Uji Signifikansi
Uji signifikansi dilakukan untuk membandingkan hasil sebelum dan sesudah penerapan Six Sigma.Tabel 9 merupakan hasil uji signifikansi untuk cacat jumlah cacat kelupas.
Tabel 9. Hasil Uji Signifikansi Cacat Kelupas
Tabel 10. Hasil Uji Signifikansi Untuk Cacat Leber
Kesimpulan bahwa jumlah cacat dapat dikurangi bila penjemuran dibatasi sebanyak 15 lembar dan waktu yang digunakan selama 2 menit. Berdasarkan uji signifikansi untuk proses pengeringan diperoleh kesimpulan bahwa jumlah cacat berbeda secara signifikan. Sedangkan, pada perancangan Standard Operational.
Perbandingan Hasil Penerapan
Perbandingan setelah penerapan dilihat berdasarkan nilai sigma dan nilai DPMO. Perbandingan ini dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Nilai DPMO dan Nilai Sigma Setelah Penerapan
Nilai perbaikan setelah penerapan metode Six Sigma dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Perbandingan Nilai DPMO dan Sigma Level (Sebelum dan Sesudah Perbaikan)
Berdasarkan hasil penerapan diperoleh peningkatan nilai Sigma dari 1,3 menjadi 2,05. Nilai DPMO mengalami penurunan dari 595.370 menjadi 290.741.







JURNAL 2
IMPLEMENTASI METODE SIX SIGMA PADA PT SURYA MILINIA
ABADI (SMA) DI NGORO INDUSTRI MOJOKERTO

DEFINE
Tahap ini merupakan langkah awal dalam siklus DMAIC pada six sigma. Tahap ini dilakukan dengan mendefinisikan pokok permasalahan yang dialami oleh PT Surya Milinia Abadi. Untuk mengetahui pokok permasalahan yang dialami oleh PT Surya Milinia Abadi, dalam tahap define ada pendefinisian masalah kualitas dalam proses mencetak produk menyangkut jumlah produk yang diproduksi dan jumlah cacat. Pada yaitu mengenai jumlah produk yang diproduksi selama bulan Juni 2012 s/d Juni 2013.

MEASURE
Proses DMAIC adalah pengukuran, yang berfokus pada pemahaman kinerja proses yang dipilih untuk diperbaiki pada saat ini, serta pengumpulan semua data yang dibutuhkan untuk dianalisis.


 







Gambar 2
Qualit Control Sampling Report
Sumber: Divisi Quality Control, PT Surya Milinia Abadi

Cara pengisian lembar periksa tersebut dengan mencentang pada produk yang cacat dengan mencetang jenis cacat yang dialami oleh produk lensdoor dan pengisian dilakukan saat pergantian shift. Produk yang cacat akan ditimbang sesuai dengan kondisi jenis kecacatannya yang kemudian akan ditulis dikolom population. Setelah selesai melakukan produksi, hal tersebut akan diberikan kepada kepala produksi, setelah diperiksa maka akan diserahkan ke divisi material untuk diinputkan kedalam suatu komputer dalam bentuk laporan hasil produksi. Setelah melakukan pengukuran melalui lembar periksa, maka dapat menetapkan karakteristik kualitas (CTQ) kunci, sebagai berikut:

Menetapkan karaketristik kualitas (CTQ) kunci

Karakteristik-karakteristik kunci yang dapat menyebabkan hasil percetakan tidak memenuhi harapan pelanggan atau konsumen adalah sebagai berikut:
a. Berat yang tidak sesuai (weight of product)
b. warna yang tidak sesuai (colour)
c. Bengkok (bending)
d. Kisut (wed line)
e. Bintik hitam (black dot)

Langkah kedua dalam analisis DMAIC adalah Analisis, analisis adalah pemeriksaan terhadap proses, fakta, dan data untuk mendapatkan pemahaman mengenai mengapa suatu permasalahan terjadi dan dimana terdapat kesempatan untuk mendapatkan perbaikan.
Kemudian menggunakan hasil perhitungan ke dalam diagram pareto. Jumlah produk cacat terbesar yaitu pada berat tidak stabil (weight of product) memiliki frekuensi kecacatan 205.62 kg dengan presentase kumulatif sebesar 31.31%. Kemudian jenis cacat yang kedua adalah bengkok (bending) dengan frekuensi kecacatan 147.03 kg dengan presentase kumulatif sebesar 53.69%. Selanjutnya jenis kecacatan ketiga adalah warna tidak sesuai (colour) dengan frekuensi kecacatan 108.62 kg dan presentase kumulatif sebesar 70.23%. Jenis kecacatan yang keempat adalah bintik hitam (black dot) dengan frekuensi kecacatan 106.55kg, memiliki presentase kumulatif sebesar 86.46%. Jenis cacat yang terakhir, yaitu kisut (wed line) dengan frekuensi kecacatan 88.89 kg, memiliki presentase kumulatif 100%.
Beberapa divisi quality control (QC) dan manajer produksi serta pengamatan langsung pada perusahaan PT Surya Milinia Abadi, faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produksi lensdoor. Tabel 15 menunjukkan berbagai macam varian penyebab jenis kecacatan yang dikategorikan dalam 3 hal yaitu karena faktor tenaga kerja (man), bahan baku (material), dan machine (mesin).

Peningkatkan nilai sigma yaitu 2.99, dimana sebelumnya pada periode 1 memiliki nilai sigma sebesar 2.94, periode 2 memiliki sigma sebesar 2.75, dan periode 3 memiliki nilai sigma seber 2.69, hal tersebut berarti bahwa dengan melakukan hal yang sederhana seperti check list untuk form kegiatan harian mesin operator sangat membantu perusahaan dalam meningkatkan kualitasnya.

JURNAL 3
APLIKASI SIX SIGMA UNTUK MENGANALISIS FAKTORFAKTOR
PENYEBAB KECACATAN PRODUK CRUMB
RUBBER SIR 20 PADA PT. XYZ

DEFINE (Tahap Pendefinisian)
Penggambaran tahapan proses produksi crumb rubber SIR 20 ini dilakukan untuk memberi kemudahan dalam memahami dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kecacatan pada proses produksi. Dan untuk memudahkan penggambaran tahapan proses produksi, maka digunakan Diagram SIPOC (Supplier-Input-Process- Output-Costumer) yang dilihat pada Gambar 1.

MEASURE (Pengukuran)
Berdasarkan pengamatan pada lantai produksi maka dilakukan pengukuran untuk meningkatkan kualitas dengan melalui penerapan six sigma. Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi sumber-sumber penyebab terjadinya penyimpangan terhadap spesifikasi produk.
Gambar 1 dapat dilihat bahwa slab dan cup lamb yang merupakan input mengalami proses produksi berupa pencucian dan pemisahan, penggilingan dan pembentukan, pengeringan, penjemuran dan pembutiran serta pengepakan untuk menghasilkan produk output crumb rubber SIR 20 yang dimanfaatkan perusahaan ban dan tekstil sebagai customer perusaan.
Untuk mengetahui jenis kecacatan terbesar pada produk crumb rubber SIR 20 pada PT. XYZ maka digunakan diagram pareto untuk mengetahui persentase kecacatan produk seperti pada Gambar 2 berikut.
Jenis kecacatan pada crumb rubber SIR 20 adalah jenis kecacatan kadar PRI sebesar 70.42%. Jenis kecacatan dalam satuan Kg (kilo gram) dan persen kecacatan dalam satuan % (persen).
ANALIZE (Analisis)
Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) merupakan alat yang digunakan dalam mengidentifikasi dan menilai resiko yang berhubungan dengan potensial kegagalan. FMEA dibuat berdasarkan hasil wawancara serta pengamatan langsung di lapangan dengan asisten dan mandor dibagian produsi. Pengamatan dilakukan pada saat proses produksi sedang berjalan di stasiun kerja pengeringan dan pengepresan. Gambar berikut adalah tabel FMEA untuk produk crumb rubber SIR 20 PT. XYZ.
FMEA terdiri dari stasiun proses, yang menunjukkan tempat terjadinya kegagalan, jenis kegagalan yang menunjukkan jenis kecacatan yang terjadi dan kolom efek kegagalan menunjukkan akibat yang ditimbulkan jika terjadi jenis kecacatan. Pada penyebab kegagalan menunjukkan faktor potensial yang menyebabkan terjadinya jenis kecacatan, dan kolom metode deteksi menyatakan cara yang dapat digunakan untuk mendefinisikan terjadinya jenis kecacatan maupun penyebabnya, sehingga dapat diperoleh faktor-faktor penyebab kegagalan proses yang mengakibatkan terjadinya produk cacat.

IMPROVE (Tahapan Perbaikan)
Kaizen merupakan perbaikan yang secara terus menerus dengan tahapan – tahapan kecil yang meliputi manager dan pegawai/karyawan dengan menggunakan biaya yang relatif kecil dan rendah resiko Berikut akan dijelaskan mengenai tahapan dari Kaizen.

Penataan
1.      SEIRI / Ringkas : Slap pada bak pencucian sebaiknya diletakan atau disimpan di kotak yang diletakkan di dekat bak pencucian, sehingga kerja operator dimudahkan dalam memproduksi.
2.      SAITON / Rapi: Menyusun peralatan dan daerah kerja sesuai urutan untuk memudahkan pengenalan. Pada lantai produksi terdapat beberapa peralatan yang digunakan tampak sedikit berserakan, seperti bambu sebagai penyanggah lembar karet pada saat penjemuran masih terlihat berantakan.
3.      SEISO / Resik: Terlihat bahwa masih adanya kotoran yang lengket seperti sampah plastik, serpihan kayu dan anak hekter (logam kecil) yang terbawa sepanjang proses produksi dimana kemungkinan benda-benda tersebut dapat terikut dalam proses besar. Oleh karena itu para operator harus lebih teliti mengamati ketika proses produksi berlangsung, sehingga kebersihannya tetap terjaga.
4.      SEIKATSU / Rawat: Tindakan nyata adalah dengan melakukan pengecekan dan perawatan terhadap mesin secara korektif dan preventive secara berkala terhadap keadaan mesin dan kebersihan alat dan mesin.
5.      SHITSUKE / Rajin: Kedisiplin para pekerja sudah memiliki kesadaran untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin sering terjadi dilakukan dan menjadikan kesalahan-kesalahan tersebut sebagai acuan untuk melakukan perbaikan. Kedepannya perlu ditambahkan bahwa kehadiran menggunakan kartu, baik keluar maupun masuk kerja harus dilakukan dan pemeriksaan terhadap pekerja yang membawa bungkusan juga tetap dilakukan untuk mencegah terjadinya pencurian bahan baku maupun produk jadi pabrik.

Penghapusan (Muda)
Pengulangan proses produksi untuk produk yang tidak memenuhi spesifikasi standar mutu perusahaan kembali ke dalam bak penampungan produk cacat untuk diproses kembali sampai memenuhi standar mutu adalah suatu pemborosan yang memerlukan biaya mahal, karena tidak hanya menguras tenaga pekerja tetapi juga akan berakibat buruk pada kualitas mesin-mesin produksi karena spesifikasi bahan baku tidak sesuai dengan spesifikasi bahan yang seharusnya diolah mesin produksi.
Pembelian bahan material sebaiknya lebih selektif dan tidak berlebihan sesuai dengan kebutuhan produksi saja, karena jika terlalu lama bahan baku disimpan maka akan mengurangi kualitas material dan tidak akan memberi nilai tambah bagi perusahaan bahkan hanya akan merugikan karena perusahaan harus membuat gudang material yang lebih besar.

Standarisasi
Gambar 4 menunjukan kondisi nyata yang ditemukan pada lantai produksi berdasarkan faktor penyebab kecacatan dominan. Kesalahan tindakan pekerja yang tidak sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan mengakibatkan cacat produk sesuai dengan faktor penyebab kecacatan yang dominan. Perlu diberikan usulan-usulan penanganan perbaikan untuk mengurangi tingkat angka kecacatan produk.

CONTROL
Adapun tahapan pengendalian) sebagai proyek six sigma yang menekankan pada tindakan perbaikan, dimana tindakan yang dilakukan sebagai pertimbangan bagi perusahaan yaitu :
1.      Melakukan pemerikasaan terhadap para pekerja yang dilakukan oleh satpam untuk menghidari adanya kehilangan atau kejadian yang tidak diinginkan oleh perusahaan.
2.      Melakukan pembersihan dan pemeriksaan terhadap mesin dan peralatan produksi sebelum dan sesudah proses produksi.
3.      Mengatur suhu mesin dryer sebelum proses produksi berjalan.
4.      Melakukan pemeriksaan kualitas bokar dengan lebih teliti.
5.      Menempatkan bahan baku pada tempat yang kering.
6.      Memastikan kualitas air terhidar dari kotoran dengan memasang saringan.
7.      Melakukan proses penjemuran bahan baku yang sesuai dan tepat.
8.      Mengganti ukuran vibrating screen dengan ukuran yang lebih halus
9.      Meningkatkan pengamatan pada mesin gilingan creeper agar bahan baku tergiling dengan sempurna.
Dengan mempertimbangkan tindakan-tindakan tersebut, perusahaan diharapkan mampu dan segera melakukan perbaikan proses untuk menghindari terjadinya kegagalan proses produksi sehingga terjadi penurunan nilai DPMO, peningkatan level Sigma dan kapabilitas proses.

KESIMPULAN
JURNAL 1
Penerapan metode Six Sigma mampu mengurangi nilai DPMO. Sebelum penerapan nilai DPMo adalah 590743. Setelah penerapan mejadi 290.741. Nilai sigma sebelum penerapan adalah 1,3 dan berubah menjadi 2,05 setelah penerapan. Selain itu penerapan metode Six Sigma mampu mengurangi biaya akibat kualitas rendah sebesar Rp. 205.042,-. Berdasarkan proses perbaikan pada proses penjemuran diperoleh waktu penjemuran yang menghasilkan cacat dengan jumlah rendah yaitu 2 menit dengan 15 lembar.
JURNAL 2
Jenis penelitian yang digunakan adalah nir penelitian berupa implementasi. Penelitian ini membahas mengenai kecacatan yang terjadi pada produk yang diproduksi PT Surya Milinia Abadi untuk mengidentifikasi penyebab kecacatan terhadap produk lensdoor yang diproduksi dimana memiliki tingkat kecacatan yang melebihi sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Untuk mengidentifikasi penyebab kecacatan serta meminimalkan jumlah cacat bahkan mencapai zero defects maka digunakan metode DMAIC dari six sigma. Diharapkan PT Surya Milinia Abadi melakukan pengendalian kualitas untuk mengurangi produk cacat yang tinggi, dengan melakukan tindakan yang dapat dilakukan adalah melakukan analisis kembali secara periodik dan berkelanjutan dengan menggunakan tahapan antara lain histogram, diagram pareto, diagram ishikawa, dan yang terakhir adalah metode 5W+1H.
JURNAL 3
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat di ambil kesimpulan yaitu terdapat faktor penyebab kecacatan produk crumb rubber SIR 20 paling dominan yaitu kadar PRI. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan adalah setting mesin dryer yang belum tepat, metode penjemuran yang masih salah, kurangnya pengawasan terhadap proses produksi pada saat penerimaan bahan baku. Usulan perbaikannya adalah menerapkan lama pengeringan pada burnerI selama 60 menit dengan suhu 135 dan lama penjemuran 7 samapai 12 hari.

DAFTAR PUSTAKA
http://ejurnal.itenas.ac.id/index.php/rekaintegra/article/download/209463.
http://journal.ubaya.ac.id/index.php/jimus/article/viewFile/540/516
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=141531&val=4128

Minggu, 03 Mei 2015

PELANGGARAN HAK MEREK

Proview Perkarakan Merek iPad untuk Lunasi Utang






KOMPAS.com — Sengketa merek dagang iPad antara Apple dan Proview Technology semakin memanas.

Dalam sebuah pernyataan, Selasa (13/3/2012), Apple menyebut Proview, yang mengaku sebagai pemilik merek iPad, telah berusaha mengecoh pengadilan dan motif gugatan Proview adalah uang, yang digunakan untuk membayar utang-utangnya.

Juru bicara Apple, Carolyn Wu, berkisah tentang proses pembelian merek iPad yang dilakukan Apple kepada Proview pada tahun 2009. Kala itu, sebuah perusahaan yang bertindak atas nama Apple mendatangi kantor Proview di Shenzen, China, untuk bernegosiasi.

Menurut Wu, harga yang disepakati untuk pembelian merek itu adalah 55.000 dollar AS. Saat itu, Proview bersikeras menjual merek dagang iPad melalui afiliasinya di Taiwan. Ini dilakukan Proview karena mereka tidak ingin membayar utangnya ke kreditor (di China).

Pihak Apple mengklaim, pembelian hak merek iPad di China tahun 2009 itu termasuk pembelian merek dagang iPad di seluruh dunia.

Atas dasar ini, Wu menyebut Proview telah menyesatkan pengadilan.

"Proview menyesatkan pengadilan China dan pelanggan dengan klaim bahwa merek dagang iPad tidak bisa dipindahkan dan ada kesalahan yang dibuat dalam transaksi tersebut," ujar Wu, seperti dikutip dari Associated Press.

Wu menyatakan, ketika Proview telah menerima uang dari Apple, mereka belum berhasil membayar lunas utang-utangnya.

"Dan karena saat ini mereka masih berutang kepada banyak pihak, Proview mencoba mendapatkan yang lebih dari Apple dengan memperkarakan kasus merek dagang itu," ungkap Wu.

Pengacara Proview, Xie Xianghui, membantah segala tuduhan Apple dan tak rela jika Proview disebut menyesatkan pengadilan. Ia justru menuduh balik bahwa Apple yang menyesatkan pengadilan, publik, dan media.

Hingga saat ini, Proview mencoba memblokir penjualan, ekspor, dan impor produk iPad di China. Saking ngototnya, Proview juga membawa kasus ini ke Amerika Serikat.

Produk iPAD dari Proview adalah kepanjangan dari Internet Personal Access Device, sebuah all in one PC yang dikembangkan sejak 1998 dan dipasarkan pada 2000. Proview sendiri mengalami kolaps pada 2010 akibat krisis global, dan menelantarkan pabrik yang berlokasi di Shenzen, China.


ANALISIS & SOLUSI :
Proview  berupaya untuk menghentikan penjualan iPad di Cina sementara Apple mengajukan banding atas keputusan tersebut. "Mungkin akan ada perundingan di masa depan," kata Xie Xianghui yaitu penasehat Proview  Technology,  penyelesaian di luar pengadilan tetap, ia juga tidak menyebutkan jumlah yang diharapkan Proview  lewat perundingan tersebut. Apple sepakat membayar uang kompensasi US$60 juta (Rp563 miliar) kepada perusahaan China bernama Proview yang sebelumnya telah menggunakan nama 'iPad', dikutip dari BBC. Pengadilan di Guangdong, China, meminta kepada kedua perusahaan mencari penyelesaian damai. "Penyelesaian kasus iPad ini harus diakhiri," ungkap pengadilan Guangdong High People. Pihak Proview  menyatakan, meski uang kompensasinya tidak sesuai harapan mereka, namun akhirnya mereka setuju. "Hal ini diterima kedua belah pihak," ujar Xie Xianghui, pengacara dari pihak Proview. Akhirnya permasalahan ini berakhir damai diluar jalur pengadilan sehingga tidak ada satupun dari kedua belah pihak yang bersengketa mendapat sanksi hukum.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2012/03/17/08002741/Proview.Perkarakan.Merek.iPad.untuk.Lunasi.Utang

Minggu, 29 Maret 2015

PELANGGARAN HAK PATEN DALAM BIDANG INDUSTRI



Hak Paten Mesin Motor Bajaj Ditolak di Indonesia


Jakarta -Wus.. Motor Bajaj melintasi jalanan Jakarta. Iklannya pun wara- wiri di berbagai media. Namun siapa sangka, hak paten teknologi mesin motor kebanggaan masyarakat India ini menjadi masalah di Indonesia.
Seperti terungkap di pengadilan siang ini. Bajaj Auto Limited sebagai produsen motor Bajaj menggugat Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM). Sebab, permohonan paten untuk sistem mesin pembakaran dalam dengan prinsip empat langkah ditolak dengan alasan sudah dipatenkan terlebih dahulu oleh Honda Giken Kogyo Kabushiki Kaisha.
"Kami memohon penolakan ini dibatalkan oleh majelis hakim," kata kuasa hukum Bajaj, Agus Tribowo Sakti dalam berkas kesimpulan yang disampaikan kepada majelis hakim di PN Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Kamis, (29/9/2011).
Kasus tersebut bermula ketika Ditjen Haki menolak permohonan pendaftaran paten Bajaj pada 30 Desember 2009 dengan alasan ketidakbaruan dan tidak mengandung langkah inventif. Atas penolakan tersebut, Bajaj Auto mengajukan banding ke Komisi Banding Paten. Namun Komisi Banding dalam putusannya pada 27 Desember 2010 sependapat dengan Direktorat Paten sehingga kembali menolak pendaftaran paten tersebut.
"Ahli yang kami hadirkan, Andy Noorsaman Sommmeng menyatakan prinsip Bajaj adalah baru," bela Agus.
Menurut Andy yang memberikan kesaksian dalam sidang tersebut, satu silinder jelas berbeda dengan dua silinder. Untuk konfigurasi busi tidak menutup kemungkinan ada klaim yang baru terutama dalam silinder dengan karakter lain.
Namun, kebaruannya adalah ukuran ruang yang kecil. Dimana harus ada busi dengan jumlah yang sama. Hal di atas adalah baru, sebab penempatannya adalah satu mesin V (double silinder) dan lainnya adalah satu silinder.
"Keunggulan bakan bakar yang hemat dan emisi yang ramah lingkungan adalah bentuk kebaruan," terang Agus.
Tapi jangan buru- buru percaya begitu saja. Sebab, Ditjen HAKI punya catatan tersendiri sehingga menolak permohonan paten ini. Yaitu, sistem ini telah dipatenkan di Amerika Serikat atas nama Honda Giken Kogyo Kabushiki Kaisha dengan penemu Minoru Matsuda pada 1985. Lantas oleh Honda didaftarkan di Indonesia pada 28 April 2006. Namun dalih ini dimentahkan oleh Bajaj.
"Bajaj telah mendapat hak paten di negara asalnya, India selaku satu anggota World Intellectual Property Organization," sangkal Agus.
Namun Ditjen HAKI tidak mau berkomentar panjang atas gugatan ini. "Nanti saya lapor pimpinan dulu," kata kuasa hukum Dirjen HAKI Ahmad Ikbal Taufik usai sidang.
Bajaj merupakan perusahaan yang berdiri sejak 1926. Perusahaan ini bergerak di berbagai sektor industri seperti kendaraan roda dua, kendaraan roda tiga dengan berbasis pada ilmu pengetahuan yang telah beroperasi dilebih dari 50 negara antara lain Amerika Latin dan Afrika.

Analisa dan Solusi :
Analisa mengenai kasus diatas mengenai perusahaan Bajaj asal india, Masalah penggunaan mesin yang menerapkan sistem 2 busi yaitu adanya kesamaan dalam penerapannya yang dimana sudah digunakan oleh Honda Giken Kogyo Kabushiki Kaisha yang diciptakan oleh Minoru Matsuda pada tahun 1985. Namun perusahaan Bajaj tidak menerima hasil keputusan hak paten sebab mesin yang digunakan perusahaan Bajaj merupakan mesin satu silinder bukan dua silinder yang digunakan oleh Honda Giken Kogyo Kabushiki Kaisha. Sebaiknya ditjen HAKI dalam menetapkan hak paten terhadap suatu benda atau produk lebih di spesifikasikan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan jika perusahaan Bajaj terbukti bersalah sebaiknya segera mungkin diberi solusi untuk perbaikan mesin tersebut agar tidak terjadi masalah seperti pencabutan penjualan dan lainnya. Namun jika perusahaan Bajaj tidak terbukti salah sebaiknya perusahaan tersebut menunjukkan bukti fisik yang kuat. Semoga permasalahan ini bisa dijadikan pelajaran agar kedepannya tidak terjadi pelanggaran hak paten khususnya bidang industri, dan sebaiknya pencipta suatu teknologi wajib mematenkan hasil karyanya agar tidak terjadi permasalahan yang menyebabkan merugi dan menurunkan image dari perusahaan yang bersangkutan.

Sumber :

Rabu, 11 Maret 2015

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL


SEJARAH DAN PENGERTIAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

          Kekayaan Intelektual atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Milik Intelektual adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR) atau Geistiges Eigentum dalam bahasa jermannya. Istilah atau terminologi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1790, yaitu Fitchte yang pada tahun 1793 mengatakan tentang hak milik dari si pencipta ada pada bukunya. Yang dimaksud dengan hak milik disini bukan buku sebagai benda, tetapi buku dalam pengertian isinya. Istilah HKI terdiri dari kata Hak, Kekayaan dan Intelektual. Kekayaan yang dimaksud disini merupakan abstraksi yang dapat dimiliki, dialihkan, dibeli maupun dijual.



             Undang-undang mengenai HAKI pertama kali ada di Venice, Italia yang menyangkut masalah paten pada tahun 1470. Caxton, Galileo, dan Guttenberg tercatat sebagai penemu-penemu yang muncul dalam kurun waktu tersebut dan mempunyai hak monopoli atas penemuan mereka. Hukum-hukum tentang paten tersebut kemudian diadopsi oleh kerajaan Inggris di jaman TUDOR tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum mengenai paten pertama di Inggris yaitu Statute of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai undang-undang paten tahun 1791. Upaya harmonisasi dalam bidang HAKI pertama kali terjadi tahun 1883 dengan lahirnya konvensi Paris untuk masalah paten, merek dagang dan desain. Kemudian konvensi Berne 1886 untuk masalah Hak Cipta (Copyright).

TEORI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

          Teori Hak Kekayaan Intelektual sangat dipengarusi oleh pemikiran John Locke tentang hak milik. Dalam bukunya, Locke mengatakan bahwa hak milik dari seseorang manusia terhadap benda yang dihasilkannya itu sudah ada sejak manusia lahir. Benda dalam pengertian disini tidak hanya benda yang berwujud tetapi juga benda yang abstrak, yang disebut dengan hak miliki atas benda yang tidak berwujud yang meurpakan hasil dari intelektualitas manusia.

PEMBAGIAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

Secara garis besar HKI terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu :
1) Hak Cipta (Copyright).
2) Hak Kekayaan Industri (Industrial Property Rights), meliputi :
    - Hak Paten.
    - Desain Industri.
    - Merek.
    - Penanggulangan Praktek Persaingan Curang.
    - Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
    - Rahasia Dagang.

SISTEM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

          Sistem HKI merupakan hak privat (Private Rights). Disinilah ciri khas HKI, seseorang bebas untuk mengajukan permohonan atau mendaftar karya intelektual atau tidak. Hak eksklusif yang diberikan negara kepada individu pelaku HKI (inventor, pencipta, pendesain, dan sebagainya) tidak lain dimaksud sebagai penghargaan atas hasil karya (kreativitas)nya dan agar orang lain terangsang untuk lebih lanjut mengembangkan lagi, sehingga dengan sistem HKI tersebut kepentingan masyarakat ditentukan melalui mekanisme pasar.


LEMBAGA ATAU BADAN KHUSUS YANG MENANGANI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
          Badan tersebut adalah World Intellectual Property Organization (WIPO), suatu badan khusus PBB, dan Indonesia termasuk salah satu anggota dengan diratifikasinya Paris Convention for the Protection of Industrial Property and Convention Establishing the World Intellectual Property Organization.

Refferensi :
 http://id.wikipedia.org/wiki/Kekayaan_intelektual
 http://119.252.161.174/bidang-hki/
 http://119.252.161.174/sistem-hki/
 http://119.252.161.174/badan-khusus-yang-menangani-hak-kekayaan-intelektual-dunia/

Who Am I?


Call me Winal
A student of Industrial Engineering
Photographer . Business . Engineer
Contact me :
mwinaldi@yahoo.com
or
                                       https://www.facebook.com/Winaldimuharrom https://www.instagram.com/winaldinst_ https://twitter.com/winalwinall